Membangun sebuah startup atau perusahaan baru bukanlah hal yang mudah. Sehebat apapun ide atau rencana awal dari sebuah
startup tidak akan menjamin
startup tersebut bisa sukses 100
persen. Tak jarang, startup
harus beberapa kali melakukan
pivot agar berhasil.
Pivot biasanya terpaksa dilakukan oleh startup yang gagal. Strategi ini dilakukan agar startup dapat beradaptasi dengan pasar. Dalam melakukan pivot, ada banyak elemen dari startup yang bisa diubah, seperti teknologi, target
pengguna, produk, bahkan ide
dasar. Pada intinya, pivot sangat bergantung pada kondisi setiap startup serta kejelian para pendirinya dalam melihat
peluang baru.
Banyak perusahaan digital besar
yang kita kenal saat ini menjadi
berhasil setelah melakukan
pivot. Contohnya, Nokia,
Hewlett Packard (HP), Nintendo,
PayPal, dan Twitter.
1. Nokia
Produsen smartphone ini
memang tengah disorot karena
bisnisnya yang sedang menurun.
Tetapi, Nokia yang kita kenal
sekarang masih menjadi pemain
besar dalam industri telekomunikasi. Padahal, saat
pertama kali dirintis pada tahun
1865 di Tampere, Finlandia,
Nokia merupakan sebuah pabrik
kertas.
Memasuki tahun 1900-an, Nokia
mulai menciptakan beragam
produk, seperti sepatu boots
berbahan karet, kabel, plastik,
perangkat elektronik dan
komputer, bahkan perlengkapan
militer.
Pada tahun 1990-an, Nokia
banting setir memasuki bisnis
perangkat telekomunikasi.
Hingga saat kini, Nokia terkenal
sebagai produsen smartphone
dan salah satu pemain besar
dalam industri telekomunikasi.
2. Hewlett Packard
Pertama kali berdiri pada tahun
1947, HP adalah perusahaan
yang bergerak di bidang engineering. Salah satu produk
yang dikembangkan HP adalah
audio oscillator, semacam
sirkuit elektronik untuk
perangkat audio.
HP memproduksi beragam
perangkat uji elektronik, seperti
voltmeter, thermometer,
generator sinyal, dan oscilloscope.
Pada tahun 1960-an, HP mulai
memasuki bisnis komputer. HP
memperkenalkan produk
personal computer (PC) pertamanya yang diproduksi
secara massal pada tahun 1968,
dan mulai memproduksi
produk-produk pendukung
komputer seperti printer dan
scanner pada tahun 1980-an.
Target HP pada saat itu adalah
pasar bisnis dan dunia pendidikan. Pada tahun 1990-an, HP memisahkan lini produk non-komputernya ke perusahaan baru yang bernama Agilent, dan mulai menyasar pengguna PC rumahan sebagai targetnya.
3. Nintendo
Nintendo pertama kali berdiri
pada tahun 1889 di Kyoto,
Jepang, dengan nama Nintendo
Koppai. Pada masa itu, Nintendo terkenal sebagai perusahaan pembuat “hanafuda” atau kartu khas Jepang.
Satu abad kemudian, perusahaan ini memperluas bisnisnya dan merambah beberapa bidang usaha lainnya. Namanya berubah menjadi Nintendo Company, Limited.
Perusahaan ini membangun
beberapa anak perusahaan,
seperti perusahaan taksi,
jaringan hotel, dan perusahaan
makanan yang menjual nasi
instan.
Pada tahun 1966, Nintendo
kembali mengubah bisnisnya
dan mulai memasuki pasar
mainan. Pada tahun 1970-an,
Nintendo mulai memproduksi
game elektronik “Game &
Watch” dan konsol game
pertamanya, Famicom (Family
Computer), yang kemudian
didistribusikan hingga keluar
Jepang dengan nama Nintendo
Entertainment System (NES).
Hingga kini, Nintendo masih
dikenal sebagai produsen konsol
game ternama.
4. PayPal
Asal Anda tahu, pada 1999,
PayPal adalah nama sebuah
aplikasi yang dibuat oleh perusahaan bernama Confinity.
Awalnya, PayPal dirancang
sebagai sistem pembayaran
mobile yang memanfaatkan
perangkat PDA. Karena PayPal
menggunakan sistem enkripsi
yang kuat, Confinity mendapatkan izin dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menawarkan sistem pembayarannya di luar AS.
Pada tahun 2000, Confinity melakukan merger dengan
perusahaan jasa keuangan
online, X.com. Perusahaan hasil
merger itu kemudian menggunakan nama X.com yang
dinilai lebih potensial ketimbang
Confinity ataupun PayPal.
Namun, pada perkembangannya,
nama X.com justru mengundang
asumsi negatif dan kesan porno.
Karena itu, setelah melakukan
restrukturisasi, perusahaan itu
mengganti namanya menjadi
PayPal Inc.
5. Twitter
Pada tahun 2005, pendiri
Twitter, Noah Glass dan Evan
William menciptakan startup
bernama Odeo yang fokus pada
layanan podcasting. Tetapi
mereka mengundurkan diri dari
bisnis tersebut setelah iTunes
Store milik Apple muncul
dengan layanan serupa. Noah dan Evan kemudian berdiskusi dengan rekan mereka, Jack Dorsey, yang saat itu tengah mengembangkan
sebuah layanan messaging yang
unik. Tim inti Odeo, termasuk
Biz Stone, akhirnya membangun
sebuah startup baru bernama
Obvious Corp.
Lewat startup baru ini, mereka
mengembangkan beberapa
aplikasi, termasuk aplikasi messaging dengan kode nama
“Twttr”. Mereka menambahkan 2
huruf vokal ke dalam kode nama
aplikasi itu, menjadi Twitter,
dan merilisnya pada tahun
2006.
Pada tahun 2007, Twitter
menjadi populer. Oleh Evan,
Odeo dijual kepada perusahaan
Sonic Mountain yang berbasis di
New York. Setelah pivot, Odeo
masih eksis hingga kini sebagai
penyedia platform manajemen
video untuk kelas enterprise.
Kelima perusahaan yang disebutkan di atas adalah contoh dari perusahaan-perusahaan yang menjadi berhasil setelah melakukan pivot. Tetapi, perjalanan mereka menuju sukses pun tidak bisa dikatakan instan.
Selain mereka, masih banyak
startup—di dalam maupun luar
negeri—yang melakukan pivot
demi menyelamatkan usahanya.
Tak jarang, pivot yang harus
dilakukan cukup ekstrem dan
menuntut pendiri startup
mengubah ide dasar, tipe layanan, serta target pengguna layanannya.




0 komentar:
Posting Komentar